panda lucu

Selasa, 09 Juni 2015

BOLEHAH KUBOHONGI DIRIKU SENDIRI?

BOLEHKAH KUBOHONGI DIRIKU SENDIRI?

 

Bohong pada diri sendiri. Apakah itu boleh? Dan apa aku harus terus berbohong pada diriku sendiri untuk membuat orang lain bahagia..?


Namaku Anisa, dan sekarang aku duduk di kelas X SMA Negeri 1 Grogol. Di usiaku yang ke 16 tahun ini, aku masih belum pernah memiliki pengalaman dalam hal percintaan. Tidak sedikit laki-laki yang berusaha mendekatiku, namun aku tetap pada pendirianku untuk tidak melakukan hubungan dengan siapa pun. Hal ini tidak lain karena orang tuaku belum memperbolehkanku untuk berpacaran. Seain itu, aku juga masih merasa belum mampu untuk meluangkan waktu, fikiran, dan perhatianku pada seseorang.


Hingga pada suatu hari, aku merasa lelah dan mulai berfikir untuk membuka hati pada seseorang, tapi hati ini masih sangat berat untuk melakukannya. Diam-diam, teman sekelasku sendiri menaruh rasa padaku. Namanya Alvan, laki laki sholeh dan mandiri. Jujur aku bingung harus menjawab apa, di satu sisi aku tidak mencintainya, dan di sisi lain aku akan merusak hubungan persahabatan kami jika aku menolaknya. Dengan berat hati kuputuskan utuk menolaknya, namun ternyata dia masih saja mendekatiku. Aku tak kuasa mengelak darinya, aku hanya bisa menyuruhnya menungguku hingga hati siap menerimanya, dan orang tuaku mengizinkanku. Kulihat segenggam tekat kuat darinya untuk terus bersamaku. Aku tak pernah terikat hubungan apapun dengannya. Namun dia tidak pernah menuntutku untuk memberikan status padanya.


Oh Tuhan... aku bingung dengan situasi ini, sekalinya aku membuka sedikit celah hatiku, aku semakin terjerumus kedalamnya. Aku tidak sedikitpun mencintainya, dan aku terus memaksa diriku untuk berusaha mencintainya dan yakin jika cinta itu akan tumbuh seiring waktu. Tapi nyatanya aku tak bisa, hingga 7 bulan ini aku belum mampu mencintainya. Haruskah aku membohongi diriku terus menerus hanya agar Alvan bahagia?


Hari berganti hari, bulan berganti bulan..Aku menemui sesosok laki-laki yang mampu memikat hatiku. Dia adalah kakak kelasku. Awal perkenalan kami saat kami mengikuti FLS2N di sekolah kami. Namanya Baihaqi, namun teman-temannya sering memanggil dengan sebutan Mas Boy. Dia adalah laki laki yang tertutup, dia menjaga jarak dan pandangannya terhadap perempuan, kurasa hal itu wajar, karena dia adalah salah satu santri yang kebetulan bersekolah di sekolah yang sama denganku. Pribadinya yang sopan, cerdas, shalih, dan ramah sangat menarik perhatianku. Bukan hanya aku, ternyata banyak sekali perempuan di sekolahku yang mengagumi dia. Nyaliku semakin ciut ketika aku mengingat Alvan. Aku harus menjaga perasaannya, walau dia bukan siapa-siapaku.


Hatiku kadang berbisik untuk meninggalkan Alvan, namun apa yang akan terjadi jika hal itu aku lakukan? Apa pula tindakan yang akan aku lakukan selanjutnya? Jika aku meninggalkan kesetiaan Alvan yang rela menungguku, akankan setelah ini kami masih bisa berteman? Atau malah akan seperti orang yang tak pernah kenal sebelumnya? Dan jika aku mendekati Mas Boy, apa aku punya cukup nyali untuk menghadapi fans nya? Apakah pula aku mampu memenangkan hatinya?


Aku bingung.. seolah aku terus membohongi diriku. Aku tak cinta tapi terpaksa cinta. Aku cinta tapi aku tak punya daya. Aku lelah dengan cinta yang membingungkan ini, aku ingin lebih dekat dengan Mas Boy. Mendengarkan lantunan Al-Qur’an yang sudah dihafalnya, mendengarkan nasihat bijaknya, menemaninya sholat, dan kubayangkan dia membantuku menyelesaikan tugas sekolahku. Tak banyak hal yag bisa aku lakukan untuk bisa lebih dekat dengannya. Dia tinggal di asrama pesantren, tanpa handphone dan media sosial. Namun entah mengapa hatiku terasa sudah terpasung olehnya. Aku ingin mengauminya dalam diam, karena inilah pribadiku yang sesungguhnya. Aku yang memang nyaman dengan cinta seperti ini. Cinta yangtidak terikat, cinta yang menjaga pandangan mata, cinta yang akan kujaga hanya untuk satu orang saja, yaitu mahramku kelak yang sudah tentu halal bagiku.


Hal ini sangat bertolak belakang dengan perasaanku terhadap Alvan. Dia kadangkala menuntutku untuk mencurahkan perhatianku terhadapnya. Aku benci cinta seperti ini, aku benci harus membohongi diriku terus menerus seperti ini.