BOLEHKAH
KUBOHONGI DIRIKU SENDIRI?
Bohong pada
diri sendiri. Apakah itu boleh? Dan apa aku harus terus berbohong pada diriku
sendiri untuk membuat orang lain bahagia..?
Namaku Anisa,
dan sekarang aku duduk di kelas X SMA Negeri 1 Grogol. Di usiaku yang ke 16
tahun ini, aku masih belum pernah memiliki pengalaman dalam hal percintaan. Tidak
sedikit laki-laki yang berusaha mendekatiku, namun aku tetap pada pendirianku
untuk tidak melakukan hubungan dengan siapa pun. Hal ini tidak lain karena
orang tuaku belum memperbolehkanku untuk berpacaran. Seain itu, aku juga masih
merasa belum mampu untuk meluangkan waktu, fikiran, dan perhatianku pada
seseorang.
Hingga pada
suatu hari, aku merasa lelah dan mulai berfikir untuk membuka hati pada
seseorang, tapi hati ini masih sangat berat untuk melakukannya. Diam-diam, teman
sekelasku sendiri menaruh rasa padaku. Namanya Alvan, laki laki sholeh dan
mandiri. Jujur aku bingung harus menjawab apa, di satu sisi aku tidak
mencintainya, dan di sisi lain aku akan merusak hubungan persahabatan kami jika
aku menolaknya. Dengan berat hati kuputuskan utuk menolaknya, namun ternyata
dia masih saja mendekatiku. Aku tak kuasa mengelak darinya, aku hanya bisa
menyuruhnya menungguku hingga hati siap menerimanya, dan orang tuaku
mengizinkanku. Kulihat segenggam tekat kuat darinya untuk terus bersamaku. Aku
tak pernah terikat hubungan apapun dengannya. Namun dia tidak pernah menuntutku
untuk memberikan status padanya.
Oh Tuhan...
aku bingung dengan situasi ini, sekalinya aku membuka sedikit celah hatiku, aku
semakin terjerumus kedalamnya. Aku tidak sedikitpun mencintainya, dan aku terus
memaksa diriku untuk berusaha mencintainya dan yakin jika cinta itu akan tumbuh
seiring waktu. Tapi nyatanya aku tak bisa, hingga 7 bulan ini aku belum mampu
mencintainya. Haruskah aku membohongi diriku terus menerus hanya agar Alvan
bahagia?
Hari berganti
hari, bulan berganti bulan..Aku menemui sesosok laki-laki yang mampu memikat
hatiku. Dia adalah kakak kelasku. Awal perkenalan kami saat kami mengikuti
FLS2N di sekolah kami. Namanya Baihaqi, namun teman-temannya sering memanggil
dengan sebutan Mas Boy. Dia adalah laki laki yang tertutup, dia menjaga jarak
dan pandangannya terhadap perempuan, kurasa hal itu wajar, karena dia adalah
salah satu santri yang kebetulan bersekolah di sekolah yang sama denganku.
Pribadinya yang sopan, cerdas, shalih, dan ramah sangat menarik perhatianku. Bukan
hanya aku, ternyata banyak sekali perempuan di sekolahku yang mengagumi dia.
Nyaliku semakin ciut ketika aku mengingat Alvan. Aku harus menjaga perasaannya,
walau dia bukan siapa-siapaku.
Hatiku kadang
berbisik untuk meninggalkan Alvan, namun apa yang akan terjadi jika hal itu aku
lakukan? Apa pula tindakan yang akan aku lakukan selanjutnya? Jika aku
meninggalkan kesetiaan Alvan yang rela menungguku, akankan setelah ini kami
masih bisa berteman? Atau malah akan seperti orang yang tak pernah kenal
sebelumnya? Dan jika aku mendekati Mas Boy, apa aku punya cukup nyali untuk
menghadapi fans nya? Apakah pula aku mampu memenangkan hatinya?
Aku bingung..
seolah aku terus membohongi diriku. Aku tak cinta tapi terpaksa cinta. Aku
cinta tapi aku tak punya daya. Aku lelah dengan cinta yang membingungkan ini,
aku ingin lebih dekat dengan Mas Boy. Mendengarkan lantunan Al-Qur’an yang
sudah dihafalnya, mendengarkan nasihat bijaknya, menemaninya sholat, dan
kubayangkan dia membantuku menyelesaikan tugas sekolahku. Tak banyak hal yag
bisa aku lakukan untuk bisa lebih dekat dengannya. Dia tinggal di asrama
pesantren, tanpa handphone dan media sosial. Namun entah mengapa hatiku terasa
sudah terpasung olehnya. Aku ingin mengauminya dalam diam, karena inilah
pribadiku yang sesungguhnya. Aku yang memang nyaman dengan cinta seperti ini.
Cinta yangtidak terikat, cinta yang menjaga pandangan mata, cinta yang akan
kujaga hanya untuk satu orang saja, yaitu mahramku kelak yang sudah tentu halal
bagiku.
Hal ini sangat
bertolak belakang dengan perasaanku terhadap Alvan. Dia kadangkala menuntutku
untuk mencurahkan perhatianku terhadapnya. Aku benci cinta seperti ini, aku
benci harus membohongi diriku terus menerus seperti ini.